Kamis, 27 September 2012

STOP TAWURAN PELAJAR !!!

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 2008 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 2009 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 2010 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 2011 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas termasuk siswa SMA N 6 Jakarta. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.
Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN PELAJAR
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

Rabu, 29 Agustus 2012

Abang Depok Tahun 2012, Ivan Henry Tholense

Rubrik inspiring saya kedatangan tamu istimewa, ia termasuk dalam kategori pria-pria berprestasi di tema rubrik inspiring kali ini. Siapa dia? check this out! :)




Depok, menjadi tempat wawancara saya dengan pria berwajah tampan ini. Ivan Henry Tholense, adalah Abang Depok tahun 2012 dalam ajang pemilihan Abang Mpok Depok yang merupakan duta pariwisata dan budaya kota Depok. Ramah dan low profile, itulah kesan pertama yang saya dapat. Tidak ada kesan sombong dan angkuh di dalam dirinya. Pria kelahiran 21 oktober 1990 ini pun bercerita banyak mengenai Kota Depok, pengalaman dan keberhasilannya meraih gelar Abang Depok tahun 2012.

Putra kedua dari dua bersaudara ini lahir dari pasangan Agus Tholense dan Juliana Tholense. Ia merupakan keturunan dari pendiri dan pelaku sejarah lahirnya kota Depok. Nama Tholense sendiri di ambil dari 12 marga yang ada di Kota Depok, yang merupakan marga pemberian Cornelis Chastelein sang “Belanda Depok.”  Nama Cornelis Chastelein tidak bisa lepas dari sejarah kota Depok. Pada abad ke-18, orang Belanda ini menjadi tuan tanah dari Depok, Lenteng Agung, Pasar Minggu, hingga kawasan Gambir Jakarta. Jejaknya kini diteruskan oleh para keturunan yang sudah dibebaskannya pada 1715. Mereka dihadiahi tanah dan dibagi dalam 12 marga. 2014 nanti, sebuah museum mini tengah digagas untuk mengenang Chastelein sebagai bagian dari sejarah negeri ini.” Tutur Ivan, panggilan akrabnya.



Memasuki masa Sekolah Dasar, ia menuntut ilmu di SD PSKD Kwitang 8. Masa kecilnya dihabiskan dengan bermain dan belajar seperti anak lainnya. Selepas SD, ia melanjutkan ke SMP Bintara Depok. Di masa SMP inilah bakat nya dalam ajang pemilihan dan perlombaan Duta mulai terasah. Di awali dengan mengikuti ajang pemilihan “Abang None”, Duta siswa untuk berbagai event disekolahnya. Dan ajang perlombaan lainnya, membuat jiwa berkompetisi nya tumbuh dan terus berkembang. Sekolah Menengah Atas ia enyam di SMA Bintara Depok. Bakat musik dan olahraga yang ia miliki semakin menonjol di SMA ini. Berbagai perlombaan ia ikuti mulai dari Lomba Band antar SMA, Lomba Basket tingkat SMA hingga Modelling menjadi awal dalam peningkatan prestasinya. Lulus SMA, ia melanjutkan Kuliah di Universitas Gunadharma Depok mengambil Jurusan Manajemen. Saat ini ia menginjak semester 8 dan sedang sibuk menyusun skripsi untuk mendapat gelar Sarjana Ekonomi.


Mengikuti ajang Pemilihan Abang Mpok Depok tahun 2012 bagi ivan, adalah panggilan nurani untuk memperkenalkan pariwisata dan budaya yang ada di Kota Depok ke masyarakat luas. Menurutnya, banyak terdapat tempat wisata di Kota Depok yang belum dikembangkan secara maksimal dan disosialisasikan secara umum. Apabila dapat dikembangkan secara maksimal dengan peran pemerintah kota maupun masyarakat sekitar tempat wisata, pariwisata mampu meningkatkan sumber pendapatan suatu daerah dan juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat secara keseluruhan. “Depok sendiri memiliki wisata yang sangat banyak dan beragam. Mulai dari wisata belanja di Depok Town Square hingga Margo city, wisata kuliner di sepanjang jalan Margonda Raya, wisata alam di situ cilodong, situ pengasinan hingga situ pladen beji, dan wisata rohani di Masjid Kubah Emas serta gereja Immanuel Depok. Semua itu merupakan potensi luar biasa yang dimiliki Kota Depok.” tambahnya. Ia menuturkan Hambatan yang dihadapi dalam meraih gelar Abang Depok tahun 2012 adalah terbatasnya waktu. Saat itu ia dihadapkan dalam 2 hal penting dalam hidupnya, yaitu penyusunan skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dan Pemilihan Abang Mpok Depok tahun 2012. Di saat seperti itulah kedisplinan dan profesionalisme yang ia miliki teruji. Dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Ia berhasil menjadi Abang Depok tahun 2012 dan akan maju mewakili Kota Depok di tingkat Provinsi dalam pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat November mendatang.

Ia pun berbagi tips untuk seluruh generasi penerus bangsa yang peduli akan budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing. “Jangan malu untuk mempelajari dan memperkenalkan budaya serta adat istiadat yang ada di daerah kita ke masyarakat luas, jangan pernah menyerah, selalu mencoba dan selalu setia dengan proses. Karena proses adalah segalanya, proses yang menentukan hasil, bukan hasil yang menentukan proses.” Tutur pria Libra ini. Inspirasi terbesar dalam hidupnya berasal dari kedua orang tuanya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi keberhasilan anak tercinta. Baginya doa orang tua sangat penting dalam menemani langkahnya untuk meraih kesuksesan seperti saat ini. Tanpa doa orang tua ia tidak akan menjadi orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat. Pribadi yang selalu ramah dan menghargai setiap orang juga menjadi hal penting agar semua orang respect terhadap apa yang kita lakukan. Kenali Negerimu, Cintai Negerimu! :)


Semoga hasil wawancara saya dengan Abang Depok tahun 2012 ini bisa memberikan inspirasi bagi semua pembaca. Menambah kecintaan kita pada pariwisata dan budaya yang ada di daerah kita masing-masing, utamanya Indonesia. Salam inspiring! :)

Selasa, 28 Agustus 2012

Presiden Hadiri Peringatan Hari Anak Nasional 2012





JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut hadir pada acara puncak Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2012 di Theater Imax Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8/2012). Acara yang bertema "Bersatu Mewujudkan Indonesia Ramah Anak" ini turut dihadiri Ibu Negara Ani Yudhoyono, jajaran anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, serta siswa madrasah, sekolah, dan pesantren dari seluruh Indonesia.
Acara ini diawali acara kesenian, seperti marawis oleh siswa MTsN 3 Pondok Pinang, Jakarta; Tari Balipong oleh SDN 10 Pondok Kelapa, Jakarta Timur; Tari Saman oleh siswa MAN 4 Jakarta Selatan; dan Tari Rambe Yamko oleh siswa SDN 18 Cengkareng Timur, Jakarta Barat.
Pada puncak Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli ini, Presiden dan seluruh hadirin dihibur oleh operet Pelangi Anak Nusantara yang berjudul "Saya Anak Indo Beriman, Jujur, Cerdas, Berakhlak Mulia dan Berprestasi".
Menteri Agama RI Suryadharma Alie, yang juga Ketua Umum Panitia Pusat Peringatan Hari Anak Nasional 2012, mengatakan, acara ini membawa pesan agar seluruh komponen bangsa meningkatkan kepedulian dan partisipasi dalam menghormati dan menjamin kualitas hidup anak. Selain itu, Suryadharma juga menekankan pentingnya keberlangsungan hidup serta perkembangan anak, baik secara fisik, mental, emosional, dan sosial juga hal penting.
"Melalui acara ini, kami berharap terwujudnya Indonesia menjadi tempat yang ramah bagi setiap anak sehingga mereka menjadi generasi unggul yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, sehat jasmani dan rohani, cerdas, dan berprestasi dengan menjunjung tinggi kejujuran, membudayakan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, dan menunjukkan prestasi yang bermanfaat bagi masyarakat," kata Suryadharma